Tiga Pilar Hadapi Perubahan Zaman: Literasi, Kompetensi, dan Karakter

Tiga Pilar Hadapi Perubahan Zaman: Literasi, Kompetensi, dan Karakter

Tiga Pilar Hadapi Perubahan Zaman Literasi, Kompetensi, dan Karakter

Pada abad 21 dimana kemajuan teknologi bergerak begitu pesat, sebuah negara

memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki tiga pilar penting. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyebutkan ketiga pilar tersebut adalah literasi, kompetensi, dan karakter. “Dalam World Economic Forum dua bulan yang lalu memunculkan tiga pilar yaitu penguasaan literasi, kompetensi, dan karakter. Literasi bukan hanya soal baca tulis saja: literasi baca tulis, literasi sains, literasi teknologi informasi, dan literasi finansial,” kata Anies Baswedan ketika membuka acara Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tahun 2016 di Palembang Sumatera Selatan, Senin (16/5/2016).
Kompetensi yang dituntut dari generasi abad 21, menurut Anies adalah: kemampuan berfikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Oleh karena itu, dalam kompetisi-kompetisi kesiswaan, soal-soal high order thinking perlu diperbanyak. “Sedangkan karakter, ada karakter moral dan karakter kinerja. Kedua-duanya kita tumbuhkan,” kata mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut.

Melalui kegiatan OSN, Mendikbud mengajak para siswa memperhatikan karakter-karakter

yang harus tumbuh melalui kegiatan di bidang sains. “Nomor satu adik-adik, kebiasaan untuk punya rasa ingin tahu dan kebiasaan kerja keras meningkatkan pemahaman atas masalah,” ujar Anies. Manusia terlahir dengan rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu tersebut harus dijaga agar tetap tumbuh.
“Yang kedua munculkan, teruskan kebiasaan bereksperimen. Jangan bayangkan eksperimen harus di dalam laboratorium. Kalian bisa bereksperimen dengan berbagai masalah,” kata alumni Universitas Gajah Mada tersebut. Eksperimen tidak harus dikerjakan di laboratorium, namun dikerjakan dalam kehdupan sehari-hari.

Sikap ketiga yang dipesankan Anies adalah sikap skeptis yang positif. “Jaga,

tumbuhkan sikap skeptis yg positif. Setiap melihat, mendengar informasi Anda kritisi, Anda fikir ulang, tidak mudah sekedar percaya,” ujarnya lagi. Hal ini akan membuat seseorang cenderung menguji dan memastikan kebenaran sebuah informasi, sebelum menggunakannya. “Skeptis tapi terbuka, melihat diskusi sebagai ihtiar mencari pengetahuan baru,” kata penggagas program Indonesia Mengajar tersebut.
Hal terakhir yang sangat penting untuk terus ditumbuhkan, menurut Anies adalah integritas. Integritas saat ini masih menjadi masalah terbesar di Indonesia. Mendikbud mencontohkan dalam perdagangan di dunia maya, sering kali laman toko maya di luar negeri menolak melayani pembelian oleh orang dari wilayah Indonesia. “Betapa beratnya posisi kita, dan jika kita tidak mengembalikan integritas itu kita sulit menjadi bagian dari dunia. Di OSN ini mari kita mulai ihtiar memulihkan integritas dalam dunia pendidikan Indonesia,” pungkas Anies.