Ria Qorina, Penyelam Wanita Penjaga Laut Indonesia

Ria Qorina, Penyelam Wanita Penjaga Laut Indonesia

Ria Qorina, Penyelam Wanita Penjaga Laut Indonesia

Nama Ria Qorina mungkin masih asing di kuping traveler

Meski demikian, wanita ini menjaga laut Indonesia dan dikenal secara internasional.

Kenalkan, inilah Ria Qorina Lubis, seorang wanita yang bekerja di perusahaan IT di Jakarta. Sekilas, wanita ini tampak biasa saja, tapi di balik kesahajaannya, Ria adalah penjaga laut Indonesia.

Lebay nggak sih disebut penjaga laut Indonesia? Tidak sama sekali. Ria Qorina memulai perjalanannya sebagai penyelam pada tahun 2004. Sebelum tahun tersebut, Ria bahkan dikenal takut dengan air semenjak kecil.

“Awal tahun 2000-an suka nonton Discovery Channel. Suatu hari ngeliat enak banget pemandangan bawah laut, hening. Akhirnya tahun 2004 beranikan diri buat les renang dan diving ,” cerita Ria.

Penyelaman pertama dilakukan Ria di Gili Trawangan

dengan discovery diving. Discovery diving adalah penyelaman yang dilakukan bersama instruktur khusus bagi pemula.

Setelah menggeluti dunia penyelaman, Ria mulai bosan. Ia mencoba untuk mengawinkan selam dengan fotografi.

“Happy banget sama fotografi. Pertama kali posting di Media Sosial Multiplay. Dari sana banyak yang minta fotoku, ada yang bayar ada yang enggak. Kalau aku yang penting bilang dan kasih credit namaku,” ujar Ria.

Semakin mahir dengan fotografi, Ria mengganti kamera poketnya dengan SLR

Ria makin spesifik dan mencintai fotografi makro atau hewan-hewan kecil seperti nudibranch.

Tapi kesukaan Ria mulai terganggu. Ia mulai gusar dengan semua tempat yang didatanginya.

“Sebagus apa pun tempatnya selalu menemukan sampah plastik. Saat itu belum kepikiran buat fotoin sampah. Karena banyak warga daerah yang kurang suka kalau nantinya tempat mereka sepi karena dituding banyak sampah,” ungkap Ria.

Tiap kali menemukan sampah di lautan, Ria akan mengambilnya dan menyimpannya di Bouyancy Control Devices (BCD). Karena terus-menerus menemukan sampah, Ria akhirnya jengah dan mendokumentasikannya.

“Waktu di foto ada pro dan kontra. Tapi ya udah diposting aja di Friendster pertama kali. Kalau mencintai sesuatu kan maunya di-protect. Karena care (dengan laut) dari dulu, akhirnya motoin dan ambil sampah saat nyelam,” lanjut Ria.

Dari kecintaannya menjaga laut Indonesia dari sampah, Ria akhirnya dikenal dan diundang ke berbagai kegiatan clean up pantai. Yang tak pernah hilang dari ingatan Ria adalah menyelam di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

“Waktu nyelam di sana nggak sengaja ketemu toren air, kasur, ban, tangga dan sampah-sampah lainnya. Gimana kita mau ambil itu sampah?” cerita Ria.

Kepulauan Seribu dianggap sebagai spot diving yang paling kotor saat itu. Namun kini wajah Kepulauan Seribu sudah mulai bersih, khususnya Pulau Pramuka. Para penduduk mulai sadar kalau penghasilan mereka didapat dari laut.

“Yang paling membuat jatuh cinta itu Lembeh. Karena Lembeh lebih banyak makro. Tapi Ambon juga bagus, cuma arusnya sangat kuat,” jelas Ria.

Kecintaanya mengedukasi masyarakat tentang sampah membuahkan hasil. Beberapa waktu lalu, Ria diundang untuk bertemu dengan Menteri Susi Pudjiastuti untuk membicarakan soal laut Indonesia.

“Waktu ketemu Ibu Susi rasanya seperti mimpi. Apa yang dibicarakan Bu Susi soal laut berkesan. Apalagi Bu Susi pakai sekitar 20 foto saya saat bicara sampah di laut,” kenang Ria.

Bukan cuma Menteri Susi Pudjiastuti yang kesemsem dengan hasil foto Ria. Karyanya bahkan sudah mendunia. Tahun ini, Ria menjadi satu-satunya peserta Indonesia yang ikut dalam International Ocean Art Festival 2019.

Kesempatan ini didapat dari hasil foto-foto Ria yang kebanyakan adalah nudibranch. “Hanya ada 4 orang yang akan diminta untuk direkam dalam wawancara. Indonesia salah satunya, ini suatu kehormatan,” kata Ria.

Sudah sangat membanggakan ya? Kabar ini tak cuma mengandung kebahagiaan tapi juga kisah sedih. Karena Ria harus menanggung setengah biaya perjalanan sendiri. Ria harus mencari sendiri sponsor seperti pemerintahan.

“Akhirnya nggak jadi berangkat. Tapi karya-karyaku sudah di sana, itu saja sudah senang,” ungkap Ria.

Ini bukan yang pertama kali karya Ria sampai di negeri orang. Sebelumnya, foto-foto Ria sudah masuk ke berbagai majalah, buku Internasional dan stasiun TV Nasional. Sebut saja Amazing Ambon, Divemag,Scuba Diver Australia Indonesia Magazine, The Journey sampai Travel Fotografi Magazine.

Pengajaran tentang sampah tak cuma disuarakan oleh Ria di Media Sosial dan fotografi. Ria juga disiplin dalam penggunaan sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Aku selalu bawa sedotan besi sendiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” jelas Ria.

Sudah menjelajahi bawah laut Indonesia dari Sabang sampai Merauke, Ria masih terus menyelam dan menjaga laut Indonesia. Apa pesan-pesan Ria buat traveler millennial?

“Indonesia itu sangat indah. Jangan cuma orang bule, kita juga harus bisa menikmati Indonesia. Pergi diving, itu merubah hidup kita. Karena kita akan merasa sangat kecil di lautan. Jaga laut dari sampah plastik,” tutup Ria.

Baca Artikel Lainnya: